Kelembutan pancaran air Si Lawe dan Si Gong

Lereng Sumbing di wilayah Magelang memang masih banyak menyimpan keindahan alamnya. Tidak jauh dari lokasi mahakarya warisan leluhur, candi Borobudur, ternyata dapat kita temukan sebuah mahakarya alam yang begitu elok terlindungi oleh kearifan masyarakat local. Sebuah curug atau air terjun yang asri terdapat disebelah selatan dari lereng gunung Sumbing. Curug Silawe, dinamakan demikian karena dahulu kala dijumpai banyak lawe, yaitu sarang laba-laba di sekitar air terjun ini.

Curug dengan ketinggian sekitar 50an meter ini memang tidak memancarkan begitu banyak air dikala musim kemarau seperti saat ini, namun pancaran uap airnya akan kita rasakan sampai jarak 100an meter kala musim hujan. Bagian bawah dari curug ini terdapat semacam kolam yang terbentuk akibat hempasan air dari atas tebing. Kita dapat bermain dikolam bening ini karena memang tidak terlalu dalam airnya. Sama seperti pada hampir semua air terjun, dibagian bawah dari air terjun ini pun akan banyak kita temui bebatuan besar yang cukup nyaman untuk beristirahat menikmati segarnya alam, sambil bermain segar dan beningnya air yang mengalir menghilir dari air terjun ini.

Yang menarik dari kompleks Curug Silawe ini adalah adanya air terjun lain sekitar 150m arah hilir dari Silawe. Si Gong adalah nama air terjun yang lebih kecil ini. Dinamakan demikian karena dahulu kala pada malam-malam tertentu sering terdengar suara bunyi gong dari arah air terjun ini. Untuk dapat bermain air disekitar limpahan dari air terjun Si Gong ini, kita harus menyeberang aliran Silawer dan menaiki anak tangga kembali kearah kanan dari Silawe. Tidak ditemukan semacam kolam dibawah Si Gong ini, namun hempasan air langsung mengenai bebatuan yang terus mengalir turun menyatu dengan aliran air dari Silawe, turun melalui bebatuan tebing. Dinding dari Si Gong ini memang unik, tersusun seperti batuan artificial dan tertata apik saling tumpang tindih.

Segarnya air serasa membuat kita malas untuk meninggalkan kesegaran di lokasi air terjun ini. Sinar mentari pada siang hari leluasa menerangi lembah air terjun ini sehingga suasananya tidak terkesan angker.

Bagi penyuka fotografi, lokasi curug Silawe – Si Gong ini layak untuk dijadikan obyek foto, baik dengan model maupun tanpa model. Lokasi sekitar tempat parkir juga memberikan pemandangan yang tidak kalah elok dengan seputar air terjun itu sendiri.  Tidak perlu khawatir akan kebahisan tenaga, karena dari tempat parkir sampai dengan lokasi air terjun tidak terlalu jauh seperti di air terjun Tawangmangu di Karanganyar, Jawatengah. Kita hanya perlu jalan kaki sekitar 200 meter menuruni jalan setapak yang sudah dibuat tangga dengan semen.

Lokasi parkir curug Silawe ini memang tidak luas dan sepertinya memang tidak dipersiapkan untuk parkir mobil. Mobil disarankan memang parkir di dusun terakhir sekitar 500 meter dari lokasi. Namun perjalanan yang harus ditempuh dengan jalan kaki ini mungkin tidak akan terasa melelahkan karena segarnya udara yang langsung akan kita hirup dan udara yang lumayan menyejukkan tubuh. Selain itu kita juga dapat menikmati suasana pedusunan di lereng pegunungan yang masih asli dan asri, demikian juga dengan keramahan penduduknya. Tiket untuk masuk pun lumayan murah, hanya Rp2000 untuk satu orang plus asuransi jasa raharja Rp250. Untuk parkir sepeda motor cukup dengan Rp1000. Bagi pengunjung yang tidak membawa bekal, ada beberapa penduduk yang berjualan makanan dan minuman di sekitar tempat parkir dan jalan menuju air terjun tersebut.

Curug Silawe ini dapat kita tempuh dari arah kota magelang maupun dari candi Borobudur. Masing-masing mungkin akan memakan waktu sekitar 30-45 menit untuk sampai ke tujuan. Jika kita berangkat dari kota Magelang, jalur yang kita ambil adalah arah Bandongan – Kaliangkrik – Sutopati. Saat kita selesai mengunjungi candi Borobudur dan menginginkan untuk mampir ke curug ini, maka jalur kearah Purworejo yang harus kita ambil, setelah melewati SPBU sekitar 2.5 km, maka akan kita temui pertigaan Krasak. Dari sini kita ambil jalur kekanan, kearah Kaliangkrik, sampai sekitar 11 km akan kita temui pertigaan dengan pembatas ditengah pertigaan. Disini kita ambil jalur ke kiri kearah kalurahan Sutopati. Jika lurus sekitar 500m akan sampai ke pasar Kaliangkrik dan kalau terus akan sampai kota Magelang. Pilihan jalur kedua ini mempunyai nilai lebih karena sejak pertigaan Krasak kita akan disuguhi pemandangan alam yang begitu indah, barisan persawahan dengan terasiringnya dan dibatasi perbukitan nun jauh disana. Keindaahan ini akan lebih nyata terlihat kala masa panen atau masa tanam. Air yang mengalir dari satu petak ke petak lain dibawahnya merupakan ornament alam yang cukup indah. Meskipun melewati areal persawahan, namun udaranya begitu segar, tidak panas.

Dari pertigaan ini sampai perempatan Kalurahan Sutopati jaraknya sekitar 2 Km dengan aspal yang masih mulis. Di perempatan Balai Desa Sutopati, setelah SD Sutopati 2 ini, kita ambil jalur yang lurus menanjak. Dari sini jalan sudah mulai sempit dan jika 2 mobil berpapasan, harus ada yang berhenti dan menepi dahulu meskipun jalan masih dilapisi aspal, namun merupakan kualitas aspal jalan kampong. Sekitar 1 km kemudian aspal habis dan jalan hanya dilapisi dengan tatanan batu sehingga agak menyulitkan untuk pengendalian kendaraan, apalagi beberapa tanjakan begitu curam dan tinggi. Jika kita melewati tanjakan-tanjakan ini dengan berboncengan motor, alangkah lebih amannya jika pembonceng turun dahulu dan berjalan kaki. Jalur jalan 2 km menuju lokasi ini pun menampilkan pesona alamnya yang eksotik. Nun jauh diseberang lembah, hutan Potorono begitu hijau dengan lebatnya pepohonan. Hutan ini merupakan konservasi terutama untuk habitat elang jawa atau bido jali. Lokasi curug ini sendiri menurut GPS adalah S 07.45820’ dan E 110.07240 dengan ketinggian sekitar 237 m, tepat diselatan puncak Gunung Sumbing.

Sulitnya medan untuk sampai di lokasi memang merupakan sebuah hambatan, namun akan terbayar lunas ketika kita sudah sampai di lokasi curug ini. Mungkin juga sulitnya medan ini yang juga melindungi keasrian dari curug yang menawan ini. Marilah kita jelajahi indah dan asrinya Curug Silawe dan Si Gong ini selagi masih terbalut dengan kealamiannya, dan rasakah hempasan kesejukan airnya. (Ristsaint)

Pintu Berkat di Pegunungan Menoreh

Peziarah Berdoa di depan Bunda

Bulan Mei, menurut kalender agama katolik merupakan bulan untuk devosi kepada Bunda Maria. Saatnya klayapan, sembari berziarah kepada Bunda Maria. Kali ini saya ingin mengunjungi Gua Maria yang baru saja diresmikan tahun 2009 yang lalu. Namanya Gua Maria Lawangsih. Gua ini berada di ketinggian sekitar 2000m dpl di perbukitan Menoreh di kabupaten kulonprogo.

Pintu Gua dilihat dari Pelataran Doa

Gua Maria ini tepatnya terletak di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara gerejawi masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh, Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokasi Goa Lawangsiih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono dan 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu. Dengan GPS akan terdeteksi koordinat 7, 72126’ LS dan 110,14837’ BT.

sungai dengan bebatuan yang indah

Kesejukan yang alami akan segera kita rasakan selepas dari perempatan Kenteng, Nanggulan kala kita berkendara menuju lokasi Goa Maria ini. Bentangan areal persawahan dengan terasiringnya yang begitu indah apalagi kala padi sudah menguning merupakan panorama yang sungguh mempesona. Sebelum jalan menanjak, persawahan itu terbelah dengan sungai dengan bebatuan besar yang bertebaran dan menggoda untuk bermain dialirannya.

Pemandangan Persawahan yang Asri

Jika anda sudah pernah ke Gua Maria Jatiningsih, untuk ke Lawangsih, maka ambil jalur terus kearah barat sampai menyeberangi Sungai Progo dan bertemu perempatan, dari sini kita ambil jalur lurus, menuju perbukitan. Kalau anda dari Sendangsono, setelah turun dan bertemu dengan jalur utama Sentolo-Muntilan, ambil jalur kekanan, kearah Sentolo.

Area Parkir dan Jalan Satu Arah di Bawah Gua

Setelah melewati pertigaan kearah Boro dan Perempatan ke arah Dekso dan jalan yang meliuk-liuk, kita akan sampai ke perempatan dengan traffic light. Dari sini kita ambil jalur kekanan. Namun untuk kendaraan bus besar, sepertinya tidak diperkenankan untuk naik menuju Gua Lawangsih ini, karena resiko yang terlalu besar ketika melewati tanjakan yang lumayan berat dan tikungan-tikungan kecil. Untuk rombongan bus besar sebaiknya menghubungi sekretariat gereja Nanggulan dulu untuk mengatur transportasi ke Goa Lawangsih. Untuk kontak, dapat menghubungi Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. Pastoran SPM Tak Bernoda Nanggulan Karang, Jatisarono, Nanggulan, Kulon Progo, YOGYAKARTA, 55671, Telpon 0857 4371 7676.

Aliran Sungai dari Dalam Gua

Pada awalnya, Gua Maria ini adalah goa tempat kelelawar bersarang, hal ini masih dapat ditemui buktinya dengan dinding goa yang sebagian menghitam. Goa lawa/kelelawar ini dahulunya digunakan oleh petani untuk mencari pupuk dari kotoran kelelawar yang bersarang didalamnya. Pintu Gua maria Lawangsih ini pada awalnya hanyalah sebuah semak belukar dengan lebar pintu gua hanya sekitar 1 meter, namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga.

Tangga Naik Menuju Pintu Gua

Menurut Romo, yang ikut serta membangun Gua Maria ini, sebenarnya didalam ditemukan ruangan yang cukup luas, namun masih digali terus agar pintu masuknya bisa besar. Karena hal ini maka penahtaan patung Maria masih bersifat sementara di mulut gua, karena rencanya akan diboyong ke ruangan besar dalam gua. Menurut Romo juga, bahwa Goa Maria ini merupakan satu dari 2 Gua Maria alami di dunia yang mempunyai sumber mata air asli yang lumayan besar dan mengalirkan air daripadanya.

Pancaran Air Berkah Kehidupan

Lawangsih dapat diartikan bahwa Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Kata Lawang dalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang. Kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Secara rohani, Lawangsih menunjuk Dalam keyakinan umat katolik, Bunda Maria adalah perantara kita kepada Yesus (per Maria ad Jesum), Putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.

Altar didepan Patung Bunda, untuk Misa

Pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Goa Lawa ini dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria. Barulah pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. Di sebelah kanan Bunda Maria Lawangsih, ada goa yang cukup luas, memanjang sampai kedalaman yang tak terhingga, penuh dengan suasana sakral. Di belakang Bunda Maria Lawangsih, terdapat goa yang lebih indah dengan sumber air di dalamnya. Sayang, goa ini agak sempit di luarnya, namun semakin ke dalam semakin luas dan penuh dengan pemandangan yang eksotik.

Gua Maria Pengiloning leres

Sebelum memiliki Gua Maria Lawangsih ini, sebetulnya umat sekitar sudah lebih dulu memiliki Gua Maria yang lebih kecil, sebuah Goa Maria di atas Kapel Stasi SPM Fatima Pelemdukuh, tidak jauh dari Goa Maria Lawangsih. Goa Pengiloning Leres adalah cikal bakal Goa Maria Lawangsih, merupakan goa alam. Di samping goa, bertahtalah Patung Kristus Raja yang sedang memberkati dengan tinggi 3 meter.

Patung Kristus Raja dekat Gua

Di belakang goa terdapat ruang doa yang cukup luas, bersih, dan teduh. Legenda yang berkembang mengatakan bahwa bukit Gedogan, tempat Goa Pengiloning Leres ini, adalah kandang Kuda Sembrani (Gedogan). Banyak orang mengalami peristiwa bahwa hampir setiap Malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon mendengar suara gaduh, (Jawa: pating gedobrak). Konon katanya, goa ini dulunya dipakai oleh para makhluk halus sebagai kandang kuda Sembrani. Hal ini dihubungkan dengan adanya sebuah mata air di bagian bawah bukit yang bernama “benjaran” yang berarti tempat minum kuda. Kapel yang ada dibawahnya pun unik. Sebagian dindingnya menyatu dan merupakan tebing lereng bebatuan alami, yang ingin menunjukkan bagaimana Gereja yang dibangun Yesus di atas Batu Karang.

Goa Maria Lawangsih sama sekali belum tersentuh oleh pembangunan secara modern, sungguh-sungguh alami.

Panti Semedi, disebelah Patung Bunda

Selain itu, goa ini dibangun oleh umat yang secara sukarela setiap hari bekerja bakti, bahu membahu, saling mendukung dengan kerja tangan mereka. Dengan senyum, canda, dan penuh semangat iman.

Gemericik Air dari Dalam Gua

Selama hampir satu tahun umat mengolah tanah grumbul (semak belukar) menjadi tempat peziarahan Maria yang sangat indah, dengan bukit-bukit batu di sekitar goa, dengan stalagtit dan stalagmit di dalam goa, dan gemercik air yang mengalir tiada henti, meski kemarau yang sangat panjang sekalipun. Saat ini masih ditemui aliran sungai kecil dibelakang patung Bunda Maria ditahtakan. Pengerjaan Gua terutama untuk menembus ruangan besar dibelakang Patung, masih terus dilakukan pada malam hari, agar tidak mengganggu kekhusukan para peziarah.

Pintu Ruang Doa Dilihat dari Dalam

Fasilitas untuk peziarah secara umum sudah tersedia meskipun dalam nuansa kesederhanaan. MCK Kamar mandi, WC/toilet, sudah tersedia dengan air yang melimpah. Air jernih dari bawah Patung Bunda Maria dialirkan menuju sebuah bak penyaring yang nantinya menjadi air yang bisa dipakai peziarah untuk dibawa pulang atau untuk diminum langsung. Air ini juga dialirkan ke kamar mandi di bawahnya, sehingga air di kamar mandi/WC sangat jernih dan layak untuk para peziarah. Jalan menuju Goa Maria Lawangsih juga sudah layak untuk menjadi jalan bagi kendaraan peziarah. Pada bulan Nopember 2010, jalan yang melingkar di sekitar Goa Maria Lawangsih sudah diaspal oleh warga di Purwosari. Cerita lengkap mengenai Gua Maria Lawangsih ini dapat dilihat di http://guamarialawangsihnanggulan.blogspot.com/

Nah… sambil klayapan menikmati indahnya negeri ini, mari kita juga merasakan indahnya kedamaian hati, dan berkomunikasi dengan Tuhan kita, di Pintu Berkat yang mengalir sejuk pada keheningan Pegunungan Menoreh yang sangat asri ini…

Menikmati Keindahan Surga yang Tersembunyi di ujung Pacitan

pasir putih pantai klayar pacitan

Menjelajah indahnya pulau jawa yang merupakan pulau dengan penduduk terpadat di Indonesia sepertinya tidak akan ada habisnya dan tidak akan bosan. Bayangkan keindahakan lain diluar jawa yang masih belum begitu banyak penduduknya, pastilah masih lebih banyak tempat alami dengan keindahannya masing-masing. Kali ini kita mencoba menjelajah bagian selatan pulau jawa, tepatnya didaerah Pacitan, ujung barat dari Jawa Timur.

menunggu tambal ban di jalan yang sulit

Daerah pantai dengan karang yang bukan merupakan muara dari sungai besar, biasanya adalah pantai dengan pasir putihnya yang indah. Demikian pula pantai Klayar ini. Pantai ini terletak di dusun Kendal, desa Sendang, kecamatan Donorojo, kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Pantai ini lumayan tersembunyi, baik karena mungkin jarang dipublikasikan, namun juga karena medan untuk mencapai lokasi ini lumayan jauh dan agak sulit, terutama akses jalan di dusun terakhir sekitar 1 km menjelang pantai. Tanjakan dengan tatanan bebatuan yang tidak rata dan rapi, serta mungkin kontur tanah yang labil, membuat tanjakan ini merupakan handicap terberat untuk mencapai pantai ini. Paling berbahaya jika turun hujan atau habis turun hujan, karena bebatuan putih sebagai landasan jalan ini dipadu dengan tanah liat yang melekat padanya merupakan jalanan yang sangat licin, dibutuhkan konsentrasi ekstra untuk melewati tanjakan ini.

turunan terakhir yang terjal berkelok dengan banyak lubang

Selain itu, turunan terakhir di bibir pantai yang tajam dan berkelok juga membutuhkan kehati-hatian pengendara karena lapisan aspal disini sudah banyak berlubang, dan jika kurang hati-hati dapat tergelincir bebatuan yang lepas dari aspal yang mengelupas tersebut. Jika sampai terjatuh, dipastikan baru akan berhenti ketika sudah sampai bawah, karena begitu terjalnya tanjakan ini.

suasana malam di Klayar

Kurang diketahui mengapa pemerintah daerah paling tidak 2 tahun terakhir ini belum memperbaiki fasilitas jalan menuju pantai yang begitu indah ini. Namun disatu sisi merupakan keuntungan sendiri bagi pengunjung, karena keasrian dan kealamian pantai ini masih terjaga sampai sekarang, demikian juga pengunjungnya tidak begitu banyak. Hal ini sangat menguntungkan bagi pelancong yang tidak menginginkan keramaian saat menikmati wisatanya. Fasilitas listrik juga belum menjangkau kawasan pantai ini, sehingga jika anda ingin bermalam di tempat ini, harus menyiapkan alat penerangan sendiri.

bangunan tempat menginap

Untuk bermalam di pantai ini pun tidak ada fasilitas penginapan, hanya ada sebuah bangunan permanen tanpa dinding, yang biasa dipergunakan oleh penduduk sekitar untuk berjualan makanan kala siang, dan beberapa gubuk. Namun bagi pengunjung yang memang tidak mempermasalahkan berbagai fasilitas ini, merupakan hal yang sangat menguntunkan, karena kala malam begitu sepi, hanya ditemani dengan suara deburan ombak, dan ada tanah lapang di pinggir pantai yang bisa untuk mendirikan tenda. Jika tidak, kita bisa tidur di bangunan atau gubuk beralaskan tikar yang tentu saja harus dibawa dari rumah atau kursi kayu panjang yang bisa dijajar sebagai alas tidur.

menikmati malam tanpa listrik di Klayar

Keindahan pantai ini sepertinya memang akan lengkap dinikmati kala kita meluangkan waktu untuk bermalam di pantai ini. Jika beruntung, maka malam hari kita bisa menikmati indahnya bintang bertaburan dilangit, tanpa pancaran lampu disekeliling kita, ditemani suara deburan ombak, dan kadang muncul keheningan, kala ombak serasa berhenti sebentar menghantam pantai.

sunrise dari bukit barat klayar

Pesona itu akan bertambah lagi saat pagi hari. Ketika bangun tidur serasa di pantai milik pribadi, karena belum ada pengunjung sama sekali. Kita bisa berolahraga pagi mendaki bukit disebelah barat pantai dengan menyusuri jalan setapak yang ada. Ketika sampai diatas kita akan disuguhi dengan pesona matahari yang baru muncul dari peraduannya, sembari dibelai segarnya angin laut yang masih segar. Saat sinar matahari sudah menyapu hamparan pasir putih, sungguh pemandangan yang mengagumkan. Pasir putih yang bersih seperti memancarkan keindahannya, apalagi belum ada satupun bekas tapak kaki yang merusak mulusnya hamparan pasir yang masih bersih itu. Kadang kala kita juga akan menemui burung laut yang sedang terbang dan meluncur untuk berburu ikan.

keheningan pagi di Pantai Klayar

Saat matahari sudah mulai merambat naik, jalan-jalan di hamparan pasir merupakan hal yang sangat menggoda untuk dilakukan. Pantai Klayar sendiri seperti terbagi menjadi 2 buah pantai yang masing-masing mempunyai karakter sendiri yang berbeda. Di sisi sebelah barat, pantai yang terhampar luas itu memiliki ombak yang tidak begitu besar, dengan pasir putih yang disambung dengan batuan yang sepertinya bukan karang, namun lebih mirip batu cadas. Beberapa batuan yang terlihat menyembul memang tidak tajam seperti yang kita temui di pantai karang, namun malahan seperti bongkahan-bongkahan yang rata, sehingga enak untuk duduk diatasnya. Agak menjorok ke darat, terdapat sebuah aliran sungai kecil yang airnya terbendung oleh gundukan pasir putih, sehingga membentuk sebuah laguna kecil yang jernih kehijauan oleh pantulan pepohonan disampingnya. Namun kadang dengan cepat, kala ombak besar datang, bendungan di laguna kecil ini jebol dan mengalirkan airnya ke laut. Bagi keluarga dengan anak kecil, bermain di laguna yang beralaskan pasir putih ini merupakan pilihan terbaik untuk mengurangi bahaya dibandingkan jika bermain air langsung dengan ombak di pantai.

laguna yang asri

Laguna ini sendiri dibatasi oleh sebuah tebing yang ditumbuhi pepohonan dan digunakan oleh kelelawar dan burung pantai untuk membuat sarangnya. Sedikit areal persawahan yang ditanami padi dan palawija juga ada dipinggir pantai ini, mungkin mirip suasana pantai di Bali.

dasyatnya ombak di pantai timur Klayar

Pada pantai sebelah timur, yang dibatasi oleh semacam pulau kecil dari batu cadas dengan pantai barat, memiliki karakter yang sangat berbeda dengan pantai sebelah barat. Pantai ini tidak selebar pantai sebelah barat, bahkan jauh lebih sempit, namun menjorok kearah laut dengan dibatasi pelataran cadas di kiri dan kanannya, sehingga ombak yang menuju pantai seperti terkumpul dan membentuk gelombang ombak yang lumayan besar, mungkin ketinggiannya rata-rata 2 meter (jika gelombang kecil). Kedalaman pantai timur ini juga mungkin lumayan dalam, karena dilihat dari warna airnya yang lebih gelap. Hal yang menarik dari pantai timur ini adalah bahwa hempasan ombak yang menyapu pasir pantai, seperti terserap oleh halusnya pasir putih pantai ini, tidak memecah, namun seperti lenyap begitu saja. Titik paling bahaya dari Pantai Klayar ini memang ada di pantai yang sebelah timur ini. Disarankan jangan mencoba untuk bermain ombak di pantai timur ini. Selain itu juga sering terjadi kecelakaan di pulau cadas kecil yang membatasi pantai timur dan barat ini. Banyak orang yang tergoda untuk berfoto-foto di hamparan batu cadas ini, namun sering tidak menyadari bahayanya. Tiba-tiba saja ombak bisa datang dan meloncati batuan cadas dipulau ini dan menghempas siapa saja yang berada disekitarnya. Hal ini sering terjadi karena kita tidak bisa melihat datangnya ombak besar yang menghempas cadas ini, namun tiba-tiba saja ombak sudah melompati hamparan cadas disisi pulau kecil ini.

Air yang memancar dari celah karang

Paling menarik bagi saya yang ditemukan di pantai ini adalah air yang memancar dari celah-celah batuan cadas keatas, seperti ketika kita melihat semburan air dari ikan paus yang sedang bernafas. Disebelah timur dari pantai timur ini terdapat sebuah gugusan batu cadas yang banyak orang melihatnya seperti sebuah kapal selam yang sedang bersandar. Jika kita menyusuri pelatarannya dan memanjat ke pelataran sebelah timur, maka kita akan menemui sebuah rekahan kecil di pelataran yang cukup luas tersebut. Pelataran ini bagian selatannya langsung berhadapan dengan jurang laut. Jika musim gelombang besar, air laut sering sekali menjangkau pelataran ini sehingga cukup berbahaya untuk naik dan berjalan-jalan di pelataran ini.

padang rumput merah diatas tebing

Saat gelombang pasang, kita hanya bisa melihat indahnya pancaran air ini dari atas tebing disebelah utara pelataran ini. Untuk naik ke tebing diatas pelataran ini, kita perlu menyusuri “benteng” berupa jajaran pohon pandan yang tumbuh subur dibelakang pantai timur. Di satu titik akan ditemukan celah yang bisa dilewati, kemudian harus menyusuri tebing menjauhi pantai dengan hamparan rumput di kiri kanannya. Ketika sampai ujung tebing, kita harus berbalik arah mendekati pantai dan melintasi padang rumput yang lebih tinggi lagi diatas tebing, mungkin setinggi perut orang dewasa. Mendekati ujung tebing, kita akan jumpai rumput yang berbeda yang berwarna merah, sungguh merupakan bonus pemandangan yang jarang kita lihat. Di ujung tebing tersebut kita bisa melihat indahnya semburan air di pelataran yang ada dibawah kita. Sedangkan disebelah kanan, hamparan indahnya pantai pasir putih, dari pantai timur dengan ombak besar sampai ujung pantai barat yang dihiasi dengan banyaknya pohon nyiur memaksa kita untuk hening sebentar mengagumi keindahan alam ini.

Tidak banyak penjual yang ada di Pantai Klayar ini, tidak lebih dari 3 orang. Menu yang disajikannya pun lumayan sederhana, hanya makanan kecil, minuman, termasuk kelapa muda, dan makannya hanya mie rebus/goreng dan mie ayam. Namun kelelahan sehabis bermain di pantai membuat semua itu sangat nikmat untuk dinikmati. Sembari menunggu giliran untuk mandi membersihkan diri dari air laut atau pasir, sungguh nikmat rasanya menyantap hangatnya mie rebus ditemani teh manis hangat atau kelapa muda.

Fasilitas MCK di pantai ini memang sudah dibangun, termasuk mushola. Namun hanya tersedia 2 kamar mandi/WC. Untuk mengisi bak airnya, masih perlu menimba air langsung dari sumur yang ada dibelakangnya karena belum adanya listrik masuk ke pantai ini untuk menggerakkan pompa air. Namun tidak perlu repot-repot menimba air, kecuali bagi mereka yang ingin bernostalgia dengan alat sederhana untuk mengambil air dari sumur ini. Biasanya ada penjaga yang menimbakan air untuk mengisi bak air di kamar mandi ini, paling sering adalah Bapak Wakijan, yang sekaligus juga sebagai orang yang dituakan yang menjaga pantai ini, atau semacam juru kuncinya. Jika malam hari ada yang bermalam pun kadang beliau menjenguk ke pantai atau menemani jika diperlukan untuk berjaga bersama di pantai Klayar ini.

Pantai Klayar sendiri ternyata dinamakan demikian, asal-usulnya bukan dari batu cadas di bagian timur yang dari jauh kelihatan seperti layar perahu yang terkembang. Menurut penuturan dari Bapak Wakijan, Klayar berasal dari kata “klayar-kluyur” yang artinya semacam keluyuran, atau berjalan tanpa arah untuk menikmati suasana. Orang disana dulunya sering berujar “Yok kita klayar-kluyur ke pantai…”, sehingga diambil kata depannya saja untuk menamai pantai ini sebagai Pantai Klayar.

Untuk menjangkau pantai ini, bisa dilakukan dari arah Pacitan atau Wonogiri, kemudian berbelok di pasar Punung, kearah Kalak, searah dengan tempat wisata Goa Gong. Dari perempatan ke Goa Gong, kita masih harus menempuh route lurus dengan jarak sekitar 15 km lagi untuk mencapai pantai ini. Di Pertigaan Kalak, kita ambil jalur ke kiri, demikian juga di pertigaan pasar Kalak. Jika masih bingung, kita bisa bertanya pada orang di Kalak, hampir semua orang disini pasti sudah tahu Pantai Klayar.

mulusnya jalan di perbatasan jatim-jateng

Jika dari arah Yogyakarta, kita bisa menempuh jalur Wonogiri tadi, atau juga bisa melalui jalur alternatif melewati Wonosari – Pracimantoro – Perempatan Giribelah ambil lurus menuju Jalur Jalan Lintas Selatan. Setelah memasuki Jawa Timur kita akan menikmati jalan yang mulus, luas dan sepi. Dari sini kita bisa mengambil jalur kanan ketika sampai di SD Sukodono I, yagn langsung tembus ke Kalak. Jalur lain melewati Goa Tabuhan – Goa Gong – Kalak. Bagi yang menyukai petualangan ekstrem mungkin tidak masalah melalui jalur SD Sukodono ini tadi, karena lebih dari separuh jalan bisa dikatakan rusak parah, dan perlu kehati-hatian ekstra untuk sampai di Kalak. Memang jalur ini paling dekat, namun akan lebih cepat sampai jika kita melewati jalur Goa Tabuhan – Goa Gong.

Nah, sudah siapkah anda menikmati keindahan surga yang tersebunyi ini…?

Mungkin sekaranglah saatnya untuk berkunjung kesana, selagi pantai ini memang belum benar-benar dikomersiilkan.

« Older entries Newer entries »