Eksotisme Sungai Oya dari Kebun Buah Mangunan

Rindangnya kompleks makam raja-raja Imogiri sedikit menyegarkan badan yang merasa gerah dibawah teriknya sinar matahari kala itu. Kami memang mampir sebentar kekomplek makam ini untuk membeli bekal makan siang berupa Pecel, makanan yang cocok buat vegetarian, karena dibuat dari sayuran ini memang

Panorama dari Gardu Pandang

banyak dijual di area bawah kompleks makam, sebelum naik bangunan utama makam raja-raja tanah jawa ini. Disana banyak orang yang duduk lesehan dipinggir jalan disamping aliran sungai, dibawah rindangya pepohonan dengan suasana hutan yang rimbun tebing bukit diseberang sungai. Kami tidak ikut makan disini, namun hanya membeli, untuk makan siang kami di Kebun Buah Mangunan anntinya.

lembah diselatan puncak 2

Dari kompleks makam ini kami kembali kearah pasar imogiri lama, namun sebelum sampai, kami ambil jalur kekiri, menuju arah Dlingo/Mangunan. Jalanan mulai menanjak naik, dan melintas area hutan yang dikelola oleh Universitas Gajah Mada. Melintasi jalanan ini sungguh mengasyikkan, apalagi jika kita menempuhnya dengan motor, bukan mobil. Udara yang sejuk, rimbunnya pepohonan (entah kalau musim kemarau) dan pemandangan di satu sisi yang menyuguhkan hamparan lembah sebagai latar belakang dan bukit yang digunakan sebagai kompleks makam raja-raja sungguh hal yang membuat pikiran kembali segar. Di bukit kompleks makam raja-raja, terlihat bangunan pelindung makam menyembul dari sela-sela pepohonan yang besar, dan semakin lama tampak semakin dibawah dari posisi kita.

Menyusuri jalan sekitar 5 kilometer naik dan menyusuri jalanan yang sepi berkelok-kelok ini, kita akan sampai ke sebuah pertigaan kecil dan haru mengambil jalur kekanan. Sayangnya tidak ada petunjuk jalan yang menunjukkan arah ke kebun buah Mangunan ini. Tidak mengapa, karena kita sekalian bisa beramah-tamah dengan penduduk sekitar sambil menanyakan arah jalan ke kebun ini.

Jalan Setapak di areal KBM

Jalur jalan ke Kebun Buah ini tidaklah terlalu besar, mungkin akan kesulitan jika kita merencanakan kesana menggunakan bus besar, tapi masih memungkinkan kalau mau menggunakan mikro bus. Area parkir di dekat penarikan retribusi lumayan luas, dan sudah diperkeras menggunakan konblok. Beberapa bangunan kantor pengelola dan aula juga sudah dibangun disini, demikian juga dengan fasilitas MCK dan mushola. Kebun Buah ini sendiri terletak di Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tepat berada di perbukitan diatas aliran kali Oya, sungai yang nantinya bertemu dengan kali Opak, dan bermuara di Pantai Depok (satu garis dan berada disebelah barat Pantai Parangtritis). Kalau kita ingat peristiwa gempa bumi besar di Jogja tahun 2006 lalu, lokasi ini berada di sebelah timur lautnya. Kita bisa menempuh jalan kesini dengan jarak 15 km dari kota Bantul, atau sekitar 35 km dari kota Yogyakarta.

Tangga menuju Area Gardu Pandang

Wahana ini menempati areal seluas kurang lebih 23 hektar dengan ketinggian antara 150 – 200 meter dpl. Kebun Buah ini dirintis sejak tahun 2003 oleh Pemerintah Kabupaten Bantul. Tanaman yang dibudidayakan di Kebun Buah ini antara lain adalah: durian, mangga, rambutan, jambu air, jeruk, sawo, duku dan manggis. Selain itu juga dibudidayakan namun dalam jumlah yang relatif sedikit yaitu: matoa, kelengkeng, jambu biji, cempedak dan belimbing. Tanaman lain selain tanaman buah juga dibudidayakan, untuk menambah kesejukan area perbukitan ini, seperti jati, king grass, pagar hidup berupa salak, magium dan pinus. Untuk pemupukan, disini juga dibiakkan sapi yang diambil kotorannya sebagai pupuk kandang.

Fasilitas Joglo di Puncak 2

Fasilitas yang ada di lokasi ini antar lain adalah: kantor manajemen, penginapan/homestay (ada 3 rumah penginapan yang disiapkan), gedung pertemuan, kolam renang, kolam ikan, jalan setapak, MCK dan mushola. Jika kita menginginkan untuk berkemah pun disini juga disediakan area untuk camping ground. Demikian pula fasilitas untuk kegiatan yang saat ini sedang banyak diminati, yaitu Outbond.

Tebing disebelah Aliran Kali Oya

Puncak terindah di Kebun Buah Mangunan ini ada di bukit sebelah selatan, dari lokasi parkir utama masih harus jalan turun ke lembah, tempat peternakan sapi dan kolam ikan serta kolam renang, lalu harus menanjak lagi di bukit yang selatan ini. Untuk mobil yang agak besar sepertinya akan kesulitan untuk naik ke puncak bukit yang ini, karena tanjakan dan tikungannya lumayan tajam. Motor yang kondisinya tidak fit juga tidak disarankan dibawa naik kesini.

Indahnya Tarian Sungai Oya

Tarian Sungai Oya

Namun semua kesukaran ini terbayar kala kita sudah sampai di puncak selatan ini, dimana juga disana dibangun sarana MCK dan joglo. Titik paling menarik disini adalah sebuah gardu pandang yang dibangun tepat di ujung bukit berbatasan langsung dengan tebing dimana aliran air Sungai Oya mengalir meliuk dibawah gardu pandang ini. Dari sini mungkin diperlukan kamera dengan lensa fish eye untuk dapat benar-benar menggambarkan keindahan puncak tebing ini, karena area pandangnya yang begitu luas, dan tidak bisa tergambarkan dengan potongan-potongan foto.

Tebing yang Dibangun sebagai Gardu Pandang

Gardu pandang ini sebenarnya adalah puncak di tebing karang dari lembah sungai yang telah dibangun dengan tambahan tangga dan shelter, dengan pagar dari jalinan besi dan semen. Dari sini sepertinya bagus sekali untuk memotret kala sunrise dan sunset. Tebing ini kalau tidak salah mengarah ke tenggara, dengan pemandangan laut di sisi kanan kita.

Piknik Keluarga

Yang kami sayangkan waktu itu adalah bahwa saat kami datang kesana bukanlah musim buah, jadi ya…., tidak sempat menikmati segarnya buah yang langsung dapat kami petik disana. Untuk dapat menikmati buah ini, memang kita harus menghubungi petugasnya dulu, dan masih dikenakan charge tersendiri.

Daftar Harga di KBM

Namun sama halnya dengan fasilitas-fasilitas lain milik pemerintah, kawasan yang sebenarnya potensial sekali untuk pariwisata ini kelihatan kurang perawatannya. Seperti contohnya kolam renang yang ada terlihat kotor dan kelihatan kalau jarang sekali digunakan. Demikian juga dengan peran pengunjung yang biasa corat-coret, kurang menyadari bahwa itu semua dibangun dengan uang rakyat, sehingga kurang mempunyai rasa memiliki…. Atau malah adanya rasa memiliki yang kelewatan, jadi diperlakukan sekehendak hati… entahlah.. ha…ha..ha.ha…

Jembatan Gantung Menyeberangi Sungai Oya

Terlepas dari itu semua, kawasan ini merupakan sebuah tempat yang layak untuk bersantai bersama teman-teman atau wisata keluarga, karena dapat menyegarkan kembali pikiran, dengan menikmati pemandangan indah dan sejuknya udara perbukitan, lepas dari kemacetan dan kesibukan perkotaan yang semakin panas terpolusi, apalagi beberapa tahun kedepan, dimana tumbuh-tumbuhan yang ada mungkin sudah lebih besar lagi dan dapat menambah kesejukan kawasan Kebun Buah Mangunan ini.

Keindahan sungai Grindulu dan suasana Mistis di cemorosewu

Liburan hari raya Paskah kali ini tidak ada rencana khusus untuk wisata. Saatnya untuk melaksanakan “dendam” lama, mengambil gambar keindahan Sungai Grindulu yang mengalir dan bermuara di teluk Pacitan, Jawa Timur. Beberapa tahun lalu pernah melalui jalur tembusan dari Ponorogo – Slahung dan sampai ke Pacitan tersebut, namun karena hujan deras dan terburu waktu karena sudah sore dan ada rencana lain, maka pemandangan yang mempesona tersebut lepas dari rekaman kamera kami.

Perjalanan kali ini dimulai pagi hari pukul 7 dengan mengambil jalur dari Jogja ke arah Wonosari diteruskan menuju Pracimantoro, Wonogiri – Giribelah – Punung, Pacitan melalui jalur tembusan yang dirintis untuk menjadi jalur jalan lintas selatan jawa. Sampai di Punung 2 jam kemudian dengan mengambil lintasan di dekat Goa Tabuhan dan mengambil jalur jalan ke Goa Gong, maka kami berhenti sejenak untuk makan pagi di Pasar Punung, Pacitan, setelah sebelumnya juga sempat berhenti sebentar di Pracimantoro untuk mengisi bensin yang sudah habis separuh dari kondisi penuh.

Saat tenaga sudah recharged, perjalanan diteruskan menuju ke teluk Pacitan, namun dengan mengambil jalur tembusan yang langsung menuju kota, tidak melewati jalur perbukitan mendekati pantai. Sebenarnya bagi yang menginginkan pemandangan yang lumayan bagus, disarankan melewati jalur perbukitan ini, karena selain kondisi jalannya yang berkelak-kelok khas pegunungan, juga nantinya akan mendapatkan view yang bagus saat melintas di ketinggian bukit dan disuguhi dengan pemandangan indahnya teluk pacitan dari atas tebing, selain juga melewati hutan lindung sebelum masuk area pantai Pacitan. Namun karena tujuan kami tidak untuk mengabadikan keindahan teluk Pacitan ini, kami memilih jalur tembusan langsung menuju Pacitan yang menghemat jarak lebih dari separuh jalan.

Di Pacitan ini ada dua jalur keluar kota, satu menuju ke Ponorogo, yang lain menuju ke Trenggalek. Kami memilih jalur ke Ponorogo, dimana Sungai Grindulu ini akan menemani hampir separuh dari perjalanan kami menuju Slahung, Ponorogo. Pada awalnya sungai ini masih kelihatan biasa, lebar, berwarna coklat, dengan bantaran pasir di dikiri kanannya dan hamparan padang rumput membentuk pulau-pulau kecil di badan sungainya. Diapit oleh perbukitan di kiri kanannya agak jauh. Namun ketika sudah beberapa kilometer kami menyusuri sungai ini menuju arah Slahung, maka keindahan ini perlahan-lahan dimunculkan. Aliran air yang deras menghantam sela-sela batu dan dibatasi oleh tebing perbukitan di sebelah kanan kami yang begitu dekat, dan badan jalan di sebelah kirinya, yang juga kemudian berdinding tebing bukit. Mungkin dahulunya jalan ini dibuat mengikuti badan sungai sehingga turunan dan tanjakannya tidak terlalu tinggi seperti jika harus melintasi bukit itu sendiri. Dan sungai pun juga terbentuk dengan memilih jalurnya sendiri melintasi lembah-lembah di sela-sela perbukitan tersebut, sehinggal jalan dan lembah sungai ini dari sananya memang diapit oleh bukit-bukit, atau memang bukit-bukit yang mengapit sungai ini…??? entahlah….. ha..ha..ha…

Di daerah Tegalombo, lokasi utama yang kami tuju, keanehan itu mulai muncul. Bagi kami yang bukan orang geologi adalah merupakan suatu keanehan sekaligus keindahan, dimana jarang kami temui di daerah lain. Bebatuan yang ada di sungai ternyata berwarna kehijauan, bukan karena lumut, namun warnanya memang kehijauan. Warna itu ternyata tidak hanya dibagian luarnya, karena ketika kami lihat dibeberapa tempat dimana orang bekerja dengan memecah bebatuan tersebut dan mengumpulkannya disisi jalan, untuk dijual, ternyata bagian dalam bebatuan tersebut juga berwarna hijau. Menurut cerita dari seorang teman, jenis bebatuan tersebut merupakan batuan marmer muda. Air kecoklatan karena habis hujan lebat mengalir disela-sela bebatuan yang kehijauan dan diapit oleh hijaunya pepohonan diperbukitan di samping badan jalan dan sungai merupakan suatu perpaduan warna yang indah. Kadang-kadang kami juga menemukan indahnya air terjun kecil di sungai ini, air memancar keputih-putihan disela-sela tebing bebatuan, sungguh indah…

Ketika sampai Slahung, perjalanan dilanjutkan ke Ponorogo dan kemudian mengambil jalur ke Sukorejo – Parang – Poncol, Magetan, setelah sebelumnya istirahat sejenak dan mengisi bahan bakar di jalur jalan Ponorogo – Wonogiri. Di daerah Sukorejo, kami sempat melintasi hutan mahoni atau karet (kami tidak sempat mengamatinya) yang lumayan sepi, dan mungkin tidak akan berani lagi melintas disana jika saatnya sudah sore dan malam, karena begitu rimbun tanpa adanya rumah di kiri kanannya. Dari papan naman yang sempat terbaca sekilas kala kami melintas, hutan jati ini masuk areal KPH Madiun.

Bonus pemandangan kami dapatkan ketika kami sudah memasuki daerah Poncol, Magetan. Jalanan yang kami lewati merupakan punggung bukit, dan dari sini kami memiliki sudut pandang yang luas, baik di kiri dan kanan jalan, maka beberapa kali kami juga berhenti untuk mengambil gambar keindahan alam karunia Tuhan ini. Disatu titik jalur yang kami lewati terlihat ada sebuah jembatan yang melintas di lembah, diapit dengan areal persawahan yang diolah secara terasiring, dan jalan yang kemudian naik dan menikung, sungguh suatu kurva alam yang begitu indah…

Jalan ini ternyata langsung menuju daerah Plaosan, area dekat tempat wisata Sarangan. Dari sini jalur jalan utama sudah lebih lebar namun dengan tanjakan-tanjakan yang terjal dan memaksa motor kami harus menggunakan persneling di gigi satu. Dan sebuah pemandangan yang menggoda untuk diabadikan lagi mulai lagi disajikan pada kami. Danau Sarangan yang indah yang dikelilingi oleh berpuluh hotel dan penginapan dan dibatasi oleh hutan dan tebing di satu sisi merupakan sebuah tempat yang begitu cukup tenang untuk menenangkan pikiran dari rutinitas keseharian, apalagi ketika kabut mulai menyelimuti wilayah ini, tapi tentu saja bukan keseharian orang yang memang tinggal atau bekerja di Sarangan ini, ha..ha..ha..

Perjalanan dilanjutkan, masih menanjak dan beberapa kali benar-benar memaksa kerja mesin dari motor yang kami naiki dengan beban kerja yang paling berat yang dapat diberikannya, apalagi ketika jalan menanjak dan menikung tajam. Dan suasana mistik seketika menyelimuti kami, ketika jalan yang harus kami lalui diselimuti oleh kabut tebal dengan jarak pandang kedepan sangat terbatas, dan dikiri kanan jalan diapit oleh pepohonan yang besar yang diselimuti oleh lumut dibadan pohonnya, dan masih dililit oleh tetumbuhan merambat serta dikelilingi oleh semak-semak. Sungguh pemandangan yang cukup menggetarkan waktu itu, apalagi motor tidak bisa berjalan cepat juga, sepertinya tenaganya drop. Kemungkinan hal ini juga karena berada di lokasi diketinggian, dimana oksigen yang diperlukan untuk pembakaran berkurang, hal sama juga seperti yang saya alami ketika berada di ketinggian daerah Batur, dataran tinggi Dieng. Kabut tebal itu sedikit-sedikit menghilang ketika kami sudah masuk daerah Jawa Tengah lagi melewati daerah Cemorosewu yang jalannya ternyata sudah diperlebar dan diperhalus, dan masuk wilayah Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah.

Disinilah akhir dari surga yang seharian ini kami telusuri, karena setelah masuk di kota Karanganyar, perjalanan hanya tinggal untuk pulang kerumah. Setelah mengisi bahan bakar untuk yang ketiga kalinya di Surakarta dan sempat makan siang sekaligus makan malam di daerah Delanggu, maka kami tiba kembali di Jogja sekitar pukul 7 malam. Sebuah perjalanan 12 jam yang lumayan memberikan sebuah pengalaman baru kepada kami, meskipun di beberapa tempat kami sempat memakai dan melepas jas hujan beberapa kali karena memang hujan yang tidak merata, namun untunglah di daerah-daerah terindah, tidak hujan sama sekali atau habis hujan, sehingga kami masih dapat mengambil beberapa gambar disana.

Dan inilah yang dapat kami katakan: “What a wonderful tour…, in a wonderful land…!”

Snorkel di Pangandaran dan Body rafting di Cukang Taneuh atau Green Canyon atau Cijulang

Perjalanan

Biasanya pada hari libur, bangun pagi bagi saya merupakan suatu pantangan, namun pagi itu, bangun pukul 3 pagi dilakukan dengan senang hati. Setelah mandi dan tidak perlu makan pagi, perjalanan panjang ini dimulai dari jogja sekitar pukul 5 pagi.

jalan kidang pananjung

Jalur selatan-selatan melewati Bantul – Srandakan kami tempuh bertiga sekalian menjemput teman yang rumahnya memang dekat dengan jembatan srandakan. Setelah menjemput teman kami, dua motor bisa melaju cepat pada saat sepinya pagi jalur jalan lintas selatan-selatan melintasi Kulon Progo, Purworejo, dan Kebumen. Ketika waktu menunjukkan pukul 7 kurang, maka pas seperti perkiraan kami, kami sudah sampai lokasi makan pagi yang direncanakan, di daerah Ambal dengan menu sate ambal yang nikmat dan terkenal itu…., dua porsi cukup membuat perut kami berempat menggembung, ha..ha.ha.ha..

Ketika raga sudah bertambah dengan tenaga dan sinar mentari sudah bersinar kuat menambah semangat, maka perjalanan mulai dilanjutkan, sang asisten

ATV

pemandu perjalanan mulai dihidupkan… GPS mulai cerewet memberi kami petunjuk jalan yang harus kami lalui.

Isi ulang bensin pertama kami lakukan di Candisari, Karanganyar, Kebumen, ketika kami keluar dari jalur jalan lintas selatan dan masuk jalur utama selatan jawa. Setelah perut kami dan motor kami terisi penuh, maka perjalanan dilanjutkan menempuh jalur Gombong – Sumpyuh – Buntu – Sampang (belok kanan) – Rawalo- Wangon – Karangpucung. Ketika sampai daerah Karangpucung meski GPS memerintahkan belok, kami sempat ragu dan bertanya kepada penduduk sekitar karena jalan yang ditunjukkan GPS menurut kami kurang meyakinkan. Namun berdasarkan petunjuk penduduk setempat, memang benar, jalur jalan tersebut merupakan jalur tembus menuju Sidareja. Namun ternyata kondisi jalan tembus yang dilewati tersebut dapat dikatakan parah dan sempit, bahkan ada beberapa ruas yang hanya berupa batu yang ditata, karena lapisan aspalnya sudah hilang dan cekung berlobang karena hujan dan dilewati banyak kendaraan.

jalan kalen buaya

Pukul 11:30 kami sampai Sidareja, kemudian ke setelah melewati jalan bergelombang dan berkelak-kelok menyusuri area persawahan, maka kami mulai menyeberangi sungai Cintanduy dan masuk wilayah Jawa Barat, di daerah Majingklak, Kalipucang. Dari sini, perjalanan sungguh mempesona, dengan tikungan-tikungan diantara naik turunnya jalan di tengah hutan menuju daerah Pangandaran. Pukul 12 lebih sedikit kami mampir di sebuah Masjid di kiri jalan yang lumayan besar karena seorang teman kami harus melaksanakan kewajibannya untuk Shalat Jumat.

Dari sini perjalanan sudah dekat, tinggal sekitar 18 km dari Pangandaran dan beberapa menit kemudian, setelah sempat istirahat karena seorang teman kami harus menjalankan ibadah Shalat Jumat di sebuah masjid di kiri jalan yang cukup besar, motor kami mulai menyusuri jalan2 di pinggiran pantai barat dan kemudian pindah ke pantai timur, untuk mencari penginapan yang kami inginkan. Disanalah kami mendapatkan informasi tentang snorkeling sekaligus alamat Penginapan Topan, tempat kami akan menginap.

On the Location

Kami mendapatkan informasi tentang penginapan Topan ini dari internet,

mercusuar di pantai timur pangandaran

maklumlah, budget traveler, alias penyuka wisata murah meriah, jadinya ya survey harga dulu dan pilih penginapan yang murah meriah. Setelah menyusuri arah jalan yang ditunjukkan mas E-em kami akhirnya menemukan penginapan Topan ini, agak masuk di pojokan jalan memang, tapi teduh, karena didepannya ditumbuhi sebuah pohon yang lumayan besar. Dipenginapan dua lantai ini untungnya masih ada kamar buat kami, ketika kami diantar naik ke lantai 2, dan ditunjukkan kamarnya, dengan fasilitas seadanya, kami ditanya oleh mas Topan, bagaimana dengan kondisi kamarnya dengan khawatir kalau-kalau kami tidak berkenan, namun dengan mantap kami mengiyakan, ha..ha..ha.ha… ya iyalah langsung kami terima, lha harganya murah banget sih, hanya Rp 75.000 untuk satu kamar, dan bisa kami pakai berempat, sepertinya untuk berenam juga masih bisa lega. Meskipun kami overtime, tapi tetep bisa ditawar harganya tuh. Harusnya hitungan overtime setelah pukul 13 sampai 18 adalah 50%, tapi waktu kami checkout pukul 15 dan kami tanya jadinya berapa mas, eh, dia bilang sama adhikku begini:” terserah neng sajalah….” Apa ga baik banget tuh, dan ketika kami tawarkan Rp. 100.000,- mas Topan ini tetap menerima bahkan disertai permintaan maaf kalau fasilitas yang diberikan kurang berkenan, wah… hebat banget nih….. TOP…. Mau kesana? Nih hubungi saja nomernya mas Topan untuk reservasi, +6285223296306 (udah ijin sama pemiliknya nih, untuk publikasi, he..he..he..).

dermaga pantai timur pangandaran

Unpack segera dilakukan, barang-barang bawaan kami bawa naik dan simpan dikamar. Seorang teman kami rupanya sudah teler karena malam sebelumnya begadang, dan langsung terkapar di salah satu dari dua tempat tidur ukuran double di kamar ukuran sekitar 4×4 meter belum termasuk kamar mandi tersebut. Kamar mandinya bagi kami lumayan bersih dan terang. Disediakan juga sebuah dispenser dan yang penting juga ada stop kontak untuk charge batere kamera dan handphone kami, supaya perburuan gambar berjalan lancar.,

bersama mas E-Em, the snorkle guide

Dilihat dari posisi penginapan yang ditengah antara pantai barat dan pantai timur, disebelah utara cagar alam pananjung, lumayan aman bila terjadi tsunami seperti beberapa waktu lalu, dan ini dibenarkan pemilik penginapan yang mengatakan bahwa saat tsunami 2006 lalu, air masuk halaman penginapan ini tidak sampai 1 meter, karena terhalang oleh bangunan-bangunan lain di pinggir pantai, apalagi kami mendapat tempat di lantai 2. Meskipun agak tersembunyi di tengah, kami tidak membutuhkan tenaga dan waktu banyak saat akan ke pantai timur maupun ke pantai barat, paling hanya 10 menit ke pantai timur, karena harus memutar dan 5 menit ke pantai barat, dengan berjalan santai. Ini nih, iseng-iseng mengecek koordinat tempatnya, dan dapatnya LS 7,69989’ dan BT 108,65702’, eitss.. tapi jangan dijatuhi bom ya… kasihan mereka dan nantinya kita ga dapat penginapan murah lagi nih…ha..ha..ha..

Oh iya, sebagai informasi saja, ketika kita sampai di gerbang loket pangandaran, pasti ada beberapa orang yang sudah stand by dan menawari kita penginapan, mungkin semacam calo gitu… pesen yang aku dapat dari browsing sih, bilang sja sudah booking tempat, kalau nggak mereka akan mengikuti kita sambil terus menawarkan penginapan jadi ga nyaman rasanya.

Have Fun Begin

perahu biru, langit biru, laut biru, pelampung orange

Ketika cukup istirahat, sekitar pukul 15, tawaran mas E-em untuk mengantar snorkeling kami tindak lanjuti, kami telpon, tawar menawar harga, dan sambil jalan ke pantai, tawar menawar pun kami lanjutkan di pantai, he..he..he. Dion, adhikku ini hebat juga nawarnya, dari harga 250, bisa dapet 190rb, tapi mungkin karena kami Cuma berempat dari kapasitas perahu yang bisa bersepululuh. Perlu dicatat ya… harga itu total untuk sewa perahu, peralatan snorkeling dan dipandu ketika kami ingin turun ke pasir putih dan menyusuri tempat2 wisata yang ada di cagar alam penanjung tersebut. Dan ditunggui kala bersnorkeling sampai kami puas. Menurut mas E-Em, waktu yang pas sih memang sekitar pukul 15 ini karena sudah tidak begitu panas, dan masih puas ketika ingin menikmati indahnya pemandangan bawah laut tersebut dan dilanjutkan berjalan-jalan di Pananjung.

snorkeling

Pengalaman ini adalah kali pertama aku dan teman-teman bersnorkeling, lumayan, banyak meminum air laut juga saat pertama kali itu, untung sebelumnya sempet bawa bekal minuman botol, tapi setelah beberapa saat, hmmmm…. Ternyata asyik juga tuh…
Sesudah lelah menikmati surga bawah air ini, kami diantar ke salah satu pasir putih yang ada di Pananjung, ditawarkan, mau diantar jalan2 masuk, ato mo balik, karena sudah sore, jadi kalau mau melihat sunset di pantai barat, waktunya tidak cukup kalau harus jalan-jalan di Pananjung.

jumping to the sun

Kami memilih pilihan kedua, balik dan pindah ke pantai barat untuk menikmati indahnya sunset di Pangandaran. Sambil menikmati sunset mandi laut diteruskan lagi…, sampai benar-benar matahari tenggelam di cakrawala, sambil menikmati hangatnya baso di pinggir pantai. Bagi teman-teman yang mau pesan untuk diantar snorkeling dari pantai timur Pangandaran, bisa pesan ke Mas E-em lewat no HP +6282115818444, tawar menawar dulu saja dari rumah, disana tinggal naik.

Night at Pangandaran

Huffff….. hari pertama full throttle of happiness, kami pun pulang ke penginapan untuk mandi, setelah badan bersih, jalan-jalan, eh… tepatnya motor-motor karena pakai motor, ha..ha..ha.. keliling kompleks wisata Pangandaran sambil mencari tempat untuk makan malam. Karena arah jalanan/gang di Pangandaran tidak tegak lurus utara-selatan/barat-timur, maka kami sempat tersesat dan hanya berputar-putar saja, tapi tak apalah, namanya juga jalan-jalan, ha..ha..ha.ha.., akhirnya setelah makan malam, mengandalkan GPS, kami bisa menemukan pantai timur dan hangout di pantai yang telah dipasangi pemecah ombak, dan digunakan sebagai dermaga itu. Menikmati malam, yang sayang tidak berbintang, sambil mendengarkan debur ombak memecah, sambil melihat pancaran lampu-lampu perahu para nelayan yang sedang menangkap ikan di kejauhan, merupakan pengalaman batin tersendiri di Pangandaran ini.

night at Pangandaran

Tempat makan malam yang banyak memang ada di pantai timur ini, namun kami akhirnya makan di dekat pasar wisata Pangandaran karena warung-warung makan di Pantai timur ini penuh sekali dengan orang-orang yang akan makan malam.

Gerimis pun turun, memaksa kami untuk kembali ke penginapan, dan melepas lelah, menunggu pagi hari yang sudah menanti akan memberikan kesenangan lagi. Namun ternyata suhu udara pantai yang panas cukup membuat kami kegerahan dan agak sulit untuk terlelap. Tidak apalah, namanya juga penginapan murah meriah, tidak ada ACnya, ha..ha.ha.. tapi inipun sudah cukup bagi kami, hanya sebagai sarana saja kok, bukan tujuan yang utama, tapi harus lain nanti kalo tujuannya bulan madu disini, ha..ha..ha.ha..

The Morning has Come

sunrise at east beach

Ternyata suhu panas ini juga ada untungnya lho, pagi hari subuh sudah bangun, padahal biasanya kalau hari libur seperti ini, aturan jam pagi itu bergeser dari pukul 6 ke pukul 9, tapi waktu itu saat subuh kami sudah bangun, dan sekitar pukul 5 pagi menyusuri jalanan di Pangandaran menuju pantai timur untuk menikmati indahnya sunrise di Pangandaran.
Ketika kami sudah dekat dengan pantai, terkejut juga…, ternyata pantai sudah ramai sekali dengan orang-orang yang juga ingin melihat sunrise, apa mereka semua ini tidak pernah melihat yang namanya sunrise po? (he..he..he.. kalau begitu kami juga dong…!!!)

Suasanya memang beda sekali dengan waktu saya di pantai Sanur/Sindhu dulu, waktu itu disana sampai pukul 7 pagi juga hanya beberapa orang yang terlihat berjalan-jalan atau olahraga sambil melihat sunrise disana. Suasana di Pangandaran, dengan jalanan, dan penginapan/hotel di pinggir pantai, ditambah dengan banyaknya penyewaan sepeda dan ATV memang mengingatkan saya dengan suasana waktu touring ke Bali dahulu, karena suasananya mempunyai beberapa kemiripan.

welcome to cukang taneuh

Ketika matahari sudah tidak begitu bersahabat dengan memancarkan panas teriknya, kami pindah untuk mencari makan pagi, karena belum tahu tempat untuk ma

kan, dan sekalian untuk menikmati pagi hari di kompleks Pangandaran, kami menyewa sepeda tandem untuk jalan-jalan mencari makan pagi, lumayan asyik juga menyusuri gang-gang sempit di Pangandaran sambil bersepeda. Maunya sih menyewa yang tandem 4 yang saya lihat ketika p

dermaga cijulang/green canyon

ertama kali kami tiba di Pangandaran, tapi teman-teman pada tidak yakin kalau ada, mereka bilang aku salah lihat, ya akhirnya kami menyewa 2 tandem masing-masing seharga 10rb dan untuk berdua. Nah… ketika kami makan di pinggir jalan pantai barat…, gantian aku yang tertawa… ternyata aku tidak salah lihat, karena memang ada sepeda tandem yang untuk berempat, ha..ha..ha..ha.., lain waktu, pengen nyobain yang berempat itu, yang berdua saja lumayan sulit beloknya, bagaimana yang berempat ya….?

Cukang Taneuh, Green Canyon yang berubah jadi Brown Canyon

laju perahu di sungai cijulang

Setelah makan pagi, sekitar pukul 8 kurang, kami berkemas untuk pergi ke Green Canyon, yang berjarak sekitar 28 km dari penginapan kami. Sebenarnya kami juga belum tahu seperti apa tempat yang akan kami tuju, dalam artian, bagaimana tempat/dermaga yang harus kami kunjungi untuk sampai ke Green Canyon, maka hanya menyusuri jalur jalan yang mengarah kesana saja. Namun ketika sudah melewati Parigi dan Nusawiru, dan mulai menyusuri jalan di pinggir sungai, maka tibalah kami ke dermaga yang tidak terlalu besar, namun halaman parkirnya seperti terminal. Letak terminal dan dermaga erseberangan, dermaga di kiri jalan, terminal di kanan jalan, dengan tulisan besar “GREEN CANYON’ warna merah. Maka kami memperlambat laju motor yang terlanjur cepat karena menikmati kelokan-kelokan jalan yang menggoda untuk membetot gas dalam-dalam, ha..ha..ha.ha..

flying fox

Yang agak membuat saya heran adalah parkir motor yang menjadi satu di dermaga hanya terdapat beberapa motor, jauh lebih sedikit daripada parkir mobil pribadi maupun bus wisata di sebelah kanan jalan, dan mungkin hanya 2 motor kami yang berplat nomor dari jogja, ha..ha..ha.ha..

Setelah parkir, bapak juru parkirnya menyarankan kami untuk segera antri membeli tiket, agar antriannya untuk diberangkatkan ke hulu tidak terlalu lama, kalaupun nanti tidak jadi, tiket masih dapat ditukarkan kembali dengan uang. Saat sudah tiket sudah terbeli seharga 75rb, lumayan kaget juga kami, masih sepagi itu, pukul 08:15, kami sudah dapat antrian 172… padahal loket di Green Canyon itu baru buka pukul 07:30. mungkin hal ini karena kami kesana pas long week end, hari jumat libur.

Tiket 75 rb itu baru tiket untuk naik perahu dan diantar ke Cukang Taneuh, belum termasuk kalau kita menginginkan untuk body rafting dan dipandu menyusuri kawasan Green Canyon sebenarnya. Satu perahu bisa dipergunakan maksimal 5 orang menurut aturan yang tertulis, namun kami melihat juga ada yang ber-6, ya kalau rombongannya 1 mobil 6 orang masakan juga akan menyewa 2 perahu, kan tidak efektif. Pembagian ini menurut petugas yang sempat bercerita, karena untuk pemerataan penghasilan para tukang perahu saja.

Setelah menunggu sekitar 1 jam lebih, bahkan saya sempat mengantarkan adhek untuk internet-an dahulu di Nusawiru, sekitar 5km dari lokasi, maka tibalah giliran kami naik perahu menuju Cukang Taneuh. Baru beberapa saat perahu meninggalkan dermaga,

gerbang cukang taneuh

hujan turun lumayan lebat, hati dag-dig-dug juga waktu itu…., apakah mungkin nanti tidak jadi body rafting, jika hujan terlalu lebat dan arus air membahayakan, maka kemungkinan tidak diperbolehkan untuk body rafting. Namun puji Tuhan ternyata sebelum sampai Cukang Taneuh, hujan pun telah berhenti.

Oh ya… waktu masih naik motor, menyusuri tepian sungai, kami belum menyadari bahwa itulah sungai Cijulang, karena warna airnya coklat, tidak seperti yang digambarkan dari cerita banyak orang, setelah sampai dermaga baru kami sadar, bahwa itulah Green Canyon yang telah berubah menjadi Brown Canyon karena hujan pada malam sebelumnya. Pada awalnya agak kecewa juga tapi kekecewaan ini terbayar saat kami berenang menuju hulu dan waktu body rafting menghilir, karena hujan ini pula, arus air lumayan lebih deras daripada saat benar-benar menjadi Green Canyon.

Berperahu menuju Green Canyon

Perjalanan sekitar 15 menit kami lalui untuk menempuh jarak sekitar 3 km dan sampai ke gerbang Green Canyon atau Cukang Taneuh atau jembatan tanah.

meninggalkan dermaga

Didekatnya, pada badan sungai yang lebar, sebelah kanan dari gerbang Cukang Taneuh, ada dermaga untuk bersandar perahu yang menunggu para penumpangnya yang sedang menikmati body rafting di hulu. Cukang Taneuh sendiri merupakan semacam Goa, yang sempit, yang dilalui badan sungai ini, sehingga perahu yang mau masuk dan keluar dari area ini harus mengantri, dan disebuah runtuhan tebing yang jatuh ditengah sungai, ada semacam pengatur lalulintas perahu ini. Sambil menunggu antrian untuk masuk

memasak

kawasan Green Canyon, kami disuguhi oleh gemericiknya air yang mengalir dan menetes di akar2 pepohonan dan tebing tinggi menuju sungai, sungguh pemandangan yang menyegarkan.

Ternyata antrian tidak hanya di gerbang Cukang Taneuh ini, setelah melewati celah sempit tersebut, di bawah Cukang Taneuh, perahu kami harus mengantri lagi untuk mendekat ke sebuah tebing yang digunakan sebagai tempat untuk menurunkan penumpang yang menginginkan body rafting.

sebuah kelokan

Sambil menunggu, kami pun mulai tawar menawar harga lagi dengan kru perahu yang 2 orang tersebut, harga 200rb ditawarkan untuk kelengkapan dan pemandu, pada awalnya kaget juga kami mendengar itu, karena menurut informasi dari browsing sebelumnya, harganya Cuma 75 rb, namun tanpa proses yang lebih lama dari saat kami menawar untuk snorkeling, maka harga 100rb kami sepakati, kami dipinjami life jacket dan dipandu menuju hulu, ditunggui sepuas kami, dan khusus bagi yang tidak bisa berenang, juga dibantu untuk bisa melalui itu semua.Setelah beberapa saat dan menyeberang melalui perahu lain yang sudah merapat, kami tiba di titik awal untuk memulai petualangan ini.

Asyiknya ber-body Rafting di Green Canyon

Pada awal petualangan, kami harus meniti tali yang dibentangkan sejajar sungai, menyusuri tebing yang dilewati arus kuat dan kemudian menyeberangi arus sungai tersebut. Setelah menyeberang, kami harus melawan arus dengan merambat di dinding batu tebing yang hitam mengkilap bagai karang terkikis air, bahkan kadang-kadang harus bergantung seperti cliff hanger. Aku sempat terjatuh karena lempengan batu kecil yang aku pegangi patah waktu mencoba bergantung diatas air dan berjuang keras menepi agar tidak terseret arus yang sangat kuat, tapi hal ini merupakan kesenangan tersendiri….

antrian

Setelah cukup kelelahan melawan arus, maka sampailah kami ke titik hulu, sebagai awal dari body rafting, jaraknya mungkin sekitar 700 meter dari awal saat kami mulai terjun ke aliran sungai. Diatas titik ini, terdapat kolam air jernih sekali, dari tetesan-tetesan air diatasnya yang tertampung dan harus memanjat tebing ekstra hati-hati karena bebatuan dan arus deras ada terhampar dibawah kami. Tinggi tebing ini lebih kurang sekitar 5 meter.

Konon kolam ini sering digunakan untuk bertapa, bahkan menurut pemandu kami, Ki Joko Bodo pun pernah bertapa di sini, dan apa yang menjadi harapan kita akan terkabul kala kita ucapkan disini, semacam wish pool-lah, kolam harapan.

Satu hal yang membuat kami sedikit kecewa adalah bahwa kami tidak bisa membawa kamera kami untuk membuat dokumentasi keindahan alam yang telah kami lalui ini, dan keasyikan yang menyelimuti kami saat itu. Hal ini karena kami tidak mempunyai kamera tahan air ataupun kantong drypack tahan air untuk membawa kamera kami berenang. Kami sarankan bagi yang ingin kesana agar mempersiapkan salah satu dari perlengkapan ini, agar dapat mengabadikan surga diantara celah-celah tebing tinggi nan hijau ini.

Ketika sudah puas berendam, maka tawaran pemandu kami untuk memulai petualangan body rafting pun langsung kami sambut. Memilih starting point yang aman, supaya tidak terbentur bebatuan, maka kami mulai meloncat untuk ber-body rafting menyusuri derasnya air di bagian hulu sungai Cijulang ini. Ketika sampai pada satu titik dimana arus air tidak bergolak, saya kami sempatkan untuk mengambang terlentang, mengambang karena life jacket yang kami kenakan. Pemandangan diatas kami, wow…. What’s a wonderful world…., matahari menembus celah-celah dedaunan di dinding tebing dan diatas tebing yang lumayan tinggi itu, mungkin sekitar 40an meter diatas kami. Demikian juga tetes-tetes air terus menitik jatuh masuk ke sungai ini, dan menerpa wajah dan tubuh kami yang pasrah terlentang mengikuti arus sungai yang tenang, tetesan air memantulkan cahaya matahari yang menembus celah tebing sungai ini… sungguh pemandangan alam yang patut disyukuri bagi yang sempat mengalaminya.

Ketika sudah sampai kembali ke starting point tempat kami tadi mulai berendam air sungai dan menyusuri sungai melawan arus kehulu, rasanya tidak rela untuk segera naik perahu dan pulang, maka di “kolam” yang tenang tersebut, kami sempat berendam, berenang, berpegangan tali yang melintang sungai dan bermain air sepuasnya dulu, sebelum akhirnya harus menghilir lagi untuk naik ke perahu yang mengantar dan menunggu kami untuk kembali ke dermaga keberangkatan.

pulang

Saat balik dari Cukang Taneuh ini, kami sudah tidak sungkan-sungkan lagi untuk berbasah-basah, berbeda dengan waktu kami berangkat tadi. Sembari naik perahu, kami bermain air di samping kiri kanan perahu kami. Akhirnya petualangan di surga ini harus kami akhiri ketika sampai di dermaga. Tanpa berganti baju basah kami dulu, kami langsung ke tempat parkir untuk pulang ke Pangandaran, dan check out dari penginapan kami untuk kempali ke Jogja. Waktu itu waktu baru menunjukkan pukul 12:45 namun kami mendengar dari pengeras suara bahwa loket sudah ditutup, dari jadwal biasa yang tertulis pukul 16:00, hal ini karena begitu banyaknya pengunjung pada hari itu, mungkin hal ini dikarenakan bahwa saat itu sedang ada long week end, libur sejak hari jumat.

Pulang Membawa Kepuasan

Ketika sampai di penginapan, waktu sudah menunjukkan lebih dari pukul 13:00, yang berarti kami akan terkena over charge untuk menginap tersebut, ha..ha.h.a.ha. gpp lah, sekalian membersihkan diri dulu, mandi-mandi dan pakcing perbekalan kami untuk kemudian meletakkan di motor. Sebenarnya alasan kami berangkat dari Pangandaran harus siang, bukan semata-mata karena overcharge ini, namun karena perjalanan yang harus kami tempuh melewati kawasan hutan jati, yang belum kami kenal sama sekali. Maka dari itu, kami perkirakan kami harus sudah melewati kawasan tersebut sebelum senja, dan diputuskan berangkat dari Pangandaran siang hari.

Jalur yang kami pilih untuk pulang kali ini agak berbeda dengan pada waktu kami berangkat. Setelah melewati Sidareja, kami mengambil jalur kekanan, kearah Kawunganten dan Jeruklegi, Cilacap. Perjalanan ini menyusuri sebelah kiri rel kereta api sampai ketika kami sampai di sebuah kota kecil setelah Gandrung Mangu, mungkin Kamulyan, kami harus pindah jalur menyeberang rel dan menyusuri dari sebelah kanan rel. Sesudah melewati Pasar Kawunganten, mata kami mulai memasuki kawasan hutan jati dengan pemandangan yang indah, jalanan yang kami lewati lumayan tidak banyak lobang, namun bergelombang, sehingga motor tidak berani melaju cepat. Ketika kami sampai Jeruklegi, kami belok kiri menuju Wangon, yang berjarak sekitar 10 km, dan ketika senja turun, sekitar pukul 17, sampailah kami di Buntu, dan mencari makan sembari beristirahat disana.

Selepas Magrib perjalanan dilanjutkan dan kali ini tidak melewati jalur jalan lintas selatan seperti pada waktu kami berangkat, karena jelas jalanan dipastikan sepi sekali, dan banyak lubang yang menunggu kami kalau nekat melewati jalur tersebut. Jalan Negara melewati Sumpyuh, Gombong, Kebumen, Prembun, kutoarjo, dan akhirnya di Purworejo kami lewati dan di Purworejo ini kami beristirahat lagi setelah jalan selama 3 jam. Kami mencari teh hangat sambil meluruskan badan di sebuah warung angkringan dekat Rumah Sakit Purworejo. Setelah cukup lama istirahat, maka perlajalan kami lanjutkan kembali menuju Wates, Yogyakarta. Ketika sampai di traffic light Galur, kami mengambil jalur kekanan, langsung menuju Srandakan, Bantul, untuk mengantar rekan kami yang rumahnya di sebelah timur Jembatan Srandakan.

Dan ketika waktu menunjukkan pukul 23, sampailah kami dirumah. Setelah mandi, badan terasa segar dan minum hangat, maka tiba saatnya untuk beristirahat setelah perjalanan jauh menikmati “serambi”nya surga… Satu hal yang ada dipikiran kami adalah: “Cukang Taneuh….!!! We’ll be back….!!! We must….!!!”. (ristsaint)

« Entri lama Entri Lebih Baru »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.